Ajak Mahasiswa Generasi Muda Menulis Folklore

 

 
Sumber Foto: Dok.Untag Hunas Surabaya

Budayawan dan Penulis-Dukut Imam Widodo tampil sebagai pembicara dalam kuliah tamu Fakultas Ilmu Budaya Universitas 17 Agustus 1945 (FIB UNTAG) Surabaya pada Kamis, (4/7). Dengan tema “Cerita Rakyat sebagai Karakter Masyarakat, Budaya/Tradisi dan Kearifan Lokal Kota Surabaya”, kuliah tamu bertempat di Ruang I 204 Gedung Pascasarjana ini diikuti oleh mahasiswa/i prodi Sastra Inggris dan Sastra Jepang. Dekan FIB UNTAG Surabaya-Drs. Danu Wahyono, M.Hum., menyambut baik kuliah tamu ini. “Hari ini kami menghadirkan Bapak Dukut. Semoga adik-adik bisa terinspirasi menjadi penulis seperti beliau yang menulis folklore. Ini menjadi penting karena perkembangan zaman seperti saat ini menggerus identitas bangsa kita.”

Ketertarikan Dukut menulis Folklore Suroboyo karena khawatir jika generasi muda Surabaya kehilangan identitas, “Di dalam buku Hikajat Soerabaia Tempo Doeloe (825 halaman), saya menulis puluhan Folklore Suroboyo. Ternyata yang sudah saya tulis itu belum apa-apa. Karena masih ada ratusan kisah Folklore. Terus terang saya khawatir, jika hal ini dibiarkan saja dan tidak segera didokumentasikan, dalam 5 tahun mendatang arek-arek Suroboyo akan kehilangan identitasnya. Mereka sudah tidak tahu lagi tentang dongeng, cerita rakyat lainnya mengenai Suroboyo.” Menurutnya, Surabaya boleh saja jadi Kota Metropolitan, tetapi jangan sampai kehilangan jati dirinya.

Menyikapi hal ini pria kelahiran Malang, 8 Juni 1954 ini mengajak peserta untuk menulis folklore dengan hati, “Hati atau perasaan itu ada. Kita memang tidak bisa melihat, namun kita bisa merasakan. Bagi saya menulis Folklore itu bukan sekadar hobi, tapi sebuah pekerjaan. Karenanya, saya melakukannya dengan bersungguh-sungguh, terencana, terjadwal dan terprogram. Kalau dilakukan sambil lalu dan setengah hati, maka tidak mungkin saya bisa jadi yang seperti sekarang ini.” Tak lupa dia membagikan pengalamannya dalam menulis folklore dengan hati, “Ide bisa datang kapan saja dan di mana saja, jadi saya mencari ide dengan membaca tulisan berbobot. Saya harus mandi, jangankan badan saya harus wangi, meja pun harus rapi. Manajemen waktu juga penting agar bisa menulis dengan segenap hati. Tak lupa saya berdoa kepada Tuhan agar proses penulisan saya bisa berjalan lancar.”

Dukut meyakinkan peserta bahwa semua orang bisa jadi penulis, “Kearifan lokal itu ratusan jumlahnya. Percayalah, Anda tidak bakalan kehabisan ide. Bukan hanya orang Surabaya yang bisa menulis folklore, saya pun bukan orang Surabaya. Pintar-pintarnya kita mengolah kata. Cerita yang ditulis jangan mudah ditebak. Segugusan perangkat konsep, nilai dan sejarah itu secara implisit tercermin dalam Folklore Suroboyo, yang di dalamnya tersembunyi kearifan-kearifan yang dapat kita manfatkan di zaman now.” Di akhir pemaparannya, dia menutup dengan kata motivasi, “Yang terbaik tak datang dengan sebegitu mudahnya. Mereka datang dengan proses panjang. Jatuh, bangkit, jatuh, bangkit sampai akhirnya juara.” (um/aep)

www.untag-sby.ac.id 

Comments

Popular posts from this blog

Lulusan Untag Surabaya Berkarakter Kebangsaan